MOUNTAIN

Terpikat Kecantikan Rammang-Rammang di Maros, Sulawesi Selatan

img

“Beneran, nih, mau nemenin ke Rammang-Rammang?” belum juga si Daeng ini menjawab, saya tambah lagi, “Tapi pagi-pagi, lho, Daeng. Mau beneran, ya, nemenin?”

Rammang-Rammang sudah mencuri perhatian saya sejak tahun 2013. Saya pertama kali melihatnya dari bus yang membawa saya dari Makassar ke Tana Toraja. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya sekilas, tapi langsung kepincut. Sejak saat itu, Rammang-Rammang selalu ada di hati.

Memang, si Daeng ini baik sekali, dua permohonan saya disetujui. Menemani ke Rammang-Rammang dan juga berangkat pagi-pagi. Sekitar pukul enam kami bertolak dari Makassar, setelah sempat terlewat sejauh 13 km, akhirnya tiba juga kami di Rammang-Rammang. Jaraknya yang hanya sekitar 40 km dari pusat Kota Makassar, membuat Rammang-Rammang bisa menjadi destinasi pilihan ketika kamu liburan di Makassar.

Untuk menyusuri kawasan karst Rammang-rammang yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini, memang paling asyik menggunakan perahu kecil, menyusuri sungainya. Karena kami hanya berdua, otomatis tawar-menawar harga sewa perahu untuk mengantar kami pulang-pergi dari dermaga ke Kampung Berua pun terjadi. Perahu kecil yang lebarnya tidak lebih dari 1 meter ini bisa diisi lima penumpang. Entah karena hari masih pagi atau karena kami menawar dengan muka manis, bapak pemilik perahu setuju memberikan potongan harga.

Rammang-Rammang
Perjalanan menuju Kampung Berua
Rammang-Rammang
Melewati celah sempit

Perjalanan menyusuri sungai dari dermaga menuju Kampung Berua sangat berkesan. Sungai yang tenang, kanan-kiri dipenuhi pohon nipah dan juga bakau, bikin kita bengong sambil menikmati pemandangan alam. Saya suka sekali ketika perahu melewati celah bebatuan, rasanya seru. Ada sedikit rasa takut kalau-kalau perahunya menabrak dinding batu.

Oh iya, katanya kawasan karst Rammang-Rammang ini adalah kawasan karst terbesar kedua atau ketiga di dunia. Setelah 30 menit, akhirnya sampai juga kami di Kampung Berua. Ada biaya retribusi yang harus dibayarkan, tapi maaf, saya lupa berapa.

Peta wisata sederhana bisa dilihat di pintu masuk Kampung ini. Dengan sigap saya mengabadikan peta itu di ponsel saya. Peta wisata menunjukan beberapa titik wisata dari kampung ini, seperti Mata Air, Gua Sikki Berlian, Gua Baru Berlian, dan lain-lain. Kampung Berua besarnya tidak seberapa, penduduknya juga tidak terlalu banyak. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 20-an rumah di sini. Mungkin 2-3 jam adalah waktu yang cukup untuk menjelajahi Kampung Berua ini.

Sayangnya, peta yang ada di ponsel saya agak sulit dimengerti, jadilah kami jalan sekenanya saja untuk menuju mata air, tujuan pertama yang terpikirkan. Melewati beberapa empang, meniti jalan setapak kecil dan juga terkadang menerabas beberapa pohon pisang dan juga semak. Di tengah perjalanan, kami bertemu seorang Bapak muda yang sedang asik membangun perahunya. Dia terlihat sibuk menempelkan lapisan-lapisan di badan perahu. Si Daeng asik sekali mengobrol dengan Bapak itu, saya hanya bisa senyum-senyum saja karena tidak mengerti obrolan mereka. Selama mereka asik mengobrol, saya berjalan berkeliling dan memotret pemandangan sekitar.

Rammang-Rammang
Rumah Bapak Sahari di Kampung Berua
Rammang-Rammang
Menuju mata air

Saya bersyukur menjelajah Rammang-Rammang padapagi hari, cuaca masih sejuk. Saya berkunjung saat musim hujan dan Rammang-Rammang terlihat hijau menyegarkan. Sangat berbeda dengan foto yang pernah teman saya tunjukkan, Rammang-Rammang saat musim kering berwarna kuning-kecokletan. Rammang-Rammang terlihat hangat dan romantis. Dua-duanya sama indahnya, hanya beda warna saja.

Kami meneruskan perjalanan mencari mata air dan melewati sebuah rumah. Pak Sahari, pemilik rumah yang sedang duduk di halaman, menegur dengan ramah dan mempersilakan kami mampir. Pak Sahari tinggal berdua dengan istrinya. Iri betul saya dengan mereka. Halaman rumahnya besar, banyak pepohonan, sejuk dan ke mana mata memandang terlihat hijau. Jangan tanya soal halaman belakang, tebing batu tinggi yang dihiasi tetumbuhan menjadi semacam ‘tembok belakang rumah’ yang tiada bandingannya.

Pak Sahari mengajak kami mampir ke gubuknya di atas bukit, tempat memandang Rammang-Rammang dari ketinggian. Gubuk yang berjarak lima menit saja dengan berjalan kaki ini, dibangun berdua dengan Ibu. Mengobrol dengan Pak Sahari dan menikmati pemandangan Rammang-Rammang sukses membuat saya lupa dengan si Mata Air. Setelah beberapa saat, Daeng berkata, “Ayo, sebentar lagi perahu tadi akan jemput di pintu masuk Kampung”. Setelah berpamitan dengan Pak Sahari, kami bergegas kembali ke dermaga. “Sampai jumpa lagi, ya, Rammang-Rammang!” kata saya dalam hati.

Rammang-Rammang
Rammang-Rammang

*Daeng: kakak lelaki (seperti pangggilan “Mas” atau “Abang”).

Write a Comment

POPULAR STORIES

news-img

Pantai Pasir Putih di Kei Kecil yang Serasa Pantai Pribadi

Maluku terkenal dengan keindahan pantai-pantainya, apalagi yang terdapat di Pulau Kei Kecil yang belakangan ini mulai ramai dibicarakan. Bagaimana, sih, pantai di Kei Kecil?

Dec 15, 2015
news-img

5 Hal Unik yang Bisa Kamu Temukan di Dieng

Ada banyak alasan untuk melakukan perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng, desa di dekat Kota Wonosobo. Berikut ini beberapa hal yang bisa kamu temukan di sana!

Feb 09, 2016

COMMENTS